Tadi selepas Sholat Ashar, saya tertarik dengan sebuah slogan iklan rokok yang terpampang di spanduk bertuliskan..."berani ngaku salah"...Sebenarnya kalimat ini diangkat dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Namun yang menarik dari kalimat itu adalah adanya makna yang begitu besar didalamnya. Hari ini seiiring dengan semakin majunya peradaban hidup yang ditandai dengan semakin kompleksnya kebutuhan akan materi mendorong kita "menghalalkan" segala cara untuk mencapai segala kepentingan. Apa yang terjadi kemudian? kita tidak jarang berbenturan dengan rambu-rambu etika dan nurani kita (suara hati red). Kita lebih mementingkan terpenuhinya apa yang kita sebut dengan "kebutuhan" dibandingkan terlebih dahulu mem-filter prosedur pemenuhannya. Efek samping yang paling parah dari hal tersebut adalah kita terkadang kehilangan rasa kemanusiaan dalam hidup ini sehingga tanpa kita sadari dari awal mungkin saja kita telah melakukan kesalahan dalam proses pemenuhan "need" tersebut. Yang lebih parahnya, saat ini saking pintarnya kita (kalee aja merasa red) semua tindak tindak diberi label benar dan sesuai prosedur. Padahal coba kita tanyakan ke hati kecil kita, apakah benar demikian? maka tidak jarang ditemukan jawaban yang sebenarnya bertentangan dengan yang kita tempuh. Apa yang saya tekankan di sini adalah diperlukannya suatu ketegasan sikap bahwa pemenuhan kebutuhan hidup itu sah-sah saja asalkan dilakukan di atas kebenaran dan sesuai dengan kejujuran hati kita. Jika tidak, maka beranikah kita mengakuinya sebagai suatu kesalahan??? hanya diri dan Alloh yang Maha Tahu. Allohu A'lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar